Batik Karanggayam merupakan salah satu varian batik khas Banyumas yang berpusat di daerah Karanggayam, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Batik ini memiliki karakteristik kuat yang mencerminkan budaya pedesaan (pedalaman) yang bersahaja dan dekat dengan alam.
HUBUNGI PENJUALBatik Karanggayam merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perkembangan Batik Banyumasan, yang berpusat di daerah Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Secara historis, batik ini memiliki akar yang kuat dari budaya membatik yang berkembang di sekitar pemerintahan Banyumas pada awal abad ke-19.
Kesederhanaan dan Kerendahan Hati ("Lugu")
Batik Banyumas, termasuk dari Karanggayam, sering dijuluki "batik lugu". Filosofinya menggambarkan kehidupan masyarakat Banyumas yang apa adanya, jujur, sederhana, dan tidak menonjolkan kemewahan (low profile). Warna-warna yang digunakan cenderung sogan (cokelat tua), hitam, dan putih, yang memperkuat kesan bersahaja.
Koneksi dengan Alam dan Kehidupan Desa
Motif batik Karanggayam banyak terinspirasi dari lingkungan sekitar (flora dan fauna) yang dekat dengan kehidupan pedesaan, seperti dedaunan, bunga, atau hewan, yang dimaknai sebagai wujud rasa syukur dan harmoni dengan alam.
Egaliter dan Bebas (Nyeni)
Filosofi ini mencerminkan karakter masyarakat Banyumas yang egaliter (setara), tidak terikat oleh kaku-nya aturan keraton, dan menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Ini berbeda dengan batik keraton (Solo/Jogja) yang cenderung memiliki pakem tertentu.
Kemandirian Ekonomi (Pemberdayaan)
Secara historis, membatik di wilayah ini sering kali dijadikan usaha ibu-ibu rumah tangga untuk mengisi waktu luang atau menambah penghasilan. Ini melambangkan kemandirian, ketekunan, dan ketahanan ekonomi keluarga.
Motif Khas: Lumbon dan Hewan
Salah satu motif yang umum adalah Lumbon (daun talas/lumbu), yang secara simbolis dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk beradaptasi di mana pun berada, seperti daun talas yang tahan air.
Warna Sogan Cokelat-Hitam: Ciri khas utama adalah penggunaan warna-warna gelap dan bersahaja seperti sogan (cokelat), krem, putih, dan hitam, yang menggambarkan kesederhanaan dan keteguhan hati.
Motif Naturalis dan Fauna: Motif batik sering kali terinspirasi dari lingkungan alam sekitarnya, seperti flora (daun, bunga) dan fauna (hewan).
Motif Populer (Lumbon/Daun Talas): Salah satu motif yang populer dan dianggap sebagai identitas adalah Lumbon atau daun talas, yang melambangkan kerendahan hati. Motif ini sering dipadukan dengan parang (Parang Lumbon) yang menggambarkan ketegasan dan semangat pantang menyerah.
Kesan "Lugu" dan Sederhana: Berbeda dengan batik keraton (Solo/Jogja) yang cenderung rumit dan teratur, batik Banyumasan seperti dari Karanggayam lebih menonjolkan kesan lugu (natural) dan tidak kaku.
Filosofi Hidup Sehari-hari: Motif-motifnya sering mengangkat kehidupan masyarakat sehari-hari atau simbol-simbol kearifan lokal.
Ngemplong (Persiapan Kain)
Kain mori putih dicuci, dihilangkan kanjinya, lalu dipukul-pukul (ngemplong) agar serat kain halus dan mudah menyerap lilin.
Nyorek (Membuat Desain)
Membuat desain motif batik di atas kain putih menggunakan pensil. Pada tahap ini, pengrajin menjiplak atau menggambar langsung motif khas seperti jahe puger, pring sedapur, atau lumbon (daun talas).
Mbathik/Nglowong (Pelekatan Malam)
Kain yang sudah bermotif kemudian dibatik menggunakan canting tulis berisi malam (lilin) panas untuk menegaskan garis motif.
Nembok (Menutup Bagian Dasar)
Melapisi bagian kain yang tidak akan diwarnai menggunakan malam yang lebih tebal (tembokan).
Medel/Pewarnaan
Pencelupan kain ke dalam tangki warna. Batik Banyumas tradisional khas dengan warna sogan (coklat tua), hitam, atau biru tua (wedelan).
Ngerok/Mbirah (Menghilangkan Malam)
Malam (lilin) pada bagian tertentu dikerok atau dibersihkan menggunakan air panas untuk memunculkan warna dasar sebelum pencelupan berikutnya.
Mbironi
Menutup bagian yang sudah berwarna sebelumnya (yang masih harus dipertahankan warnanya) dengan lilin sebelum masuk ke warna kedua atau ketiga.
Menyoga (Pencelupan Akhir)
Proses pencelupan untuk memberikan warna coklat khas (soga).
Nglorod (Pelepasan Lilin Terakhir)
Kain direbus dalam air mendidih yang dicampur sedikit soda abu untuk melepaskan seluruh sisa malam (lilin) dari kain. Ini adalah tahap akhir dari proses pewarnaan.
Pencucian dan Penjemuran
Kain dibilas bersih dan dijemur di tempat yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung agar warna tidak pudar.
-